Tegel yang merupakan koleksi Museum sejarah Tarakan ini memiliki stempel merek pabrikan produksi “DvK” yang berpusat di Eropa Barat yakni sebuah perusahaan tegel Alfred Regout di Maastricht Belanda. Didatangkan dari luar sejalan dengan kebutuhan dan kemajuan awal pertumbuhan dan perkembangan morfologi Tarakan menjadi sebuah kota industri tambang minyak di awal abad ke 20.
Penamaan tegel merupakan serapan dari Bahasa Belanda yang berarti ubin. Penggunaan tegel atau ubin di Tarakan juga mulai dikenal pada masa Kolonial Belanda sejak awal tahun 1920an. Tegel ini mulai digunakan pada lantai bangunan permanen yang dibangun oleh pemerintah Kolonial Belanda dan perusahaan tambang minyak Bataavsche Petroleium Maathappij atau akrab dalam ingatan kolektif masyarakat Tarakan menyebut BPM. Bangunan dimaksud seperti Gedung Societet (Wisma Patra), Rumah Sakit BPM (RSUKT), Gereja Katolik Imakulata, Perumahan pegawai BPM dan perumahan awal militer Belanda.